Blog Archive

Visitor

Flag Counter

Sunday, January 26, 2014

NAJHUL BALAGHAH IMAM ALI RA

by STFI Sadra  |  in SEMINAR NASIONAL FILSAFAT ISLAM DAN TASAWUF at  6:42 PM
PMIAI-ICAS-UP & STFI SADRA JAKARTA, /10/01/2013  bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra Kembali mengadakan Seminar Nasional Filsafat Islam Dan Tasawuf yang kali ini  membahas  Kitab Najhul Balaghah yakni kumpulan kata-kata hikmah Imam Ali ra yang berisikan tema-tema filsafat dan irfan.  Hadir sebagai narasumber  kali ini adalah Prof. Dr. Muhammad Hussein Zangganeh yang merupakan praktisi filsafat dan irfan serta menekuni penelitian mengenai teks-teks Najhul Balaghah. Bertindak sebagai moderator kali ini adalah Dr. Kholid Al Walid Ketua STFI Sadra sekaligus mendampingi Direktur Yayasan Hikmat Al Mustafa Prof. Dr. Sayyid Mofid Hosseini Kauhsari.  Prof Dr. Muhammad Hussein Zangganeh   menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan  berberapa tema-tema khutbah imam Ali yang syarat dengan nilai-nilai filosofis dan irfan sehingga menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi umat islam.
Membicarakan Najhul Balaghah harus dilihat dari dua aspek, yakni sumber dari karya ini sendiri yakni imam ali dan isi dari karya tersebut. Allah swt memiliki beragam sifat dan seluruh sifat-sifat itu tergambar dalam keseluruhan bagian alam semesta ini. Ketika allah digambarkan dengan sifat al qudrat atau maha kuasa maka kita menemukan kekuasan allah itu tergambar dalam kedahsyatan alam semesta ini. Jika allah digambarkan dengan sifat pengasih dan penyayang, maka kita juga akan menemukan manifestasi sifat-sifat itu dalam hati seorang ibu. Itulah gambaran bagaimana sifat-sifat itu termanifestas. Begitu juga dalam sifat ketunggalan Allah swt,maka kita juga akan menemukan sifat ketunggalan ini dalam sosok Imam Ali ra. Rosululloh saw bersabda :
Wahai ali permisalan dirimu adalah seperti permisalan ketika allah berfirman, qulhuwallah hu ahad (katakanlah bahwa allah adalah tunggal). Seperti itulah perumpaan dirimu diantara umatku, tidak ada yang menyamai dirimu.

Sebagaimana keagunan imam ali ini kita temukan pula dalam beragam ungkapan para ulama khususnya imam syafii seperti dalam syairnya :

Wahai ali, keagunganmu dihadapan pengikutmu tidak pernah disebutkan karena rasa takut mereka, dan keagunganmu dihadapan para musuhmu tidak pernah disebutkan karena rasa benci mereka. Tapi tetap saja keagunganmu itu memenuhi riwayat-riwayat dan noktah-noktah sejarah.

Khalil ghibran seorang penyair libanon menjelaskan dalam bait-bait syairnya :

Aku tidak mengetahui seorang manusia yang melampaui zamannya, selain Ali ra. Seandainya ia lahir di abad inipun, maka ia akan melampaui zamannya pula.

 Muawiyah menjelaskan juga bahwa orang yang paling mulia setelah Rosululloh saw adalah Imam Ali ra. Amr bin ash pun menjelaskan keuatamaan imam ali, ia berkata bahwa jika disebutkan nama Ali, maka musuhpun akan melihat keutamaannya dengan sangat jelas.
Inilah yang membuat Najhul Balaghah menjadi karya yang sangat luar biasa karena  bersumber dari pribadi yang luar biasa pula. Sekiranya kita ingin menggali keseluruhan ilmu-ilmu filsafat dan irfan maka kita harus kembali kepada sumber utama dari keseluruhan ilmu-ilmu tersebut yang tentu saja membuat kita harus kembali kepada karya-karya otentik. Seperti karya ibnu arobi, kunawi, dan lain sebagainya. Karya-karya otentik ini sendiri memiliki rujukan utama yakni al quran dan hadis-hadis nabawi. Dua hal ini terpancar dalam pribadi imam ali bin abitholib ra, oleh karena itu, Najhul Balagah merupakan pemaknaan terhadap sumber-sumber utama pengetahuan islam yakni al quran dan hadis-hadis nabawi.  Sebenarnya  si pengumpul Najhul Balaghah pada awalnya bermaksud mengumpulkan ucapan-ucapan fasih yang bersumber dari para sahabat nabi saw, tapi ketika setiap kali ia merunut setiap sanad dari riwayat ucapat tersebut kesemuanya malah hanya bersumber dari satu sumber utama, yakni Ali bin abitholib ra sehingga terkumpulah sebuah karya yang akhirnya ia namai Najhul Balaghah atau Puncak Kefasihan.
Najhul balaghah mengandung tema-tema tauhid yang mendalam dan begitu dahsyat dalam aspek pemaknaanya seperti Tauhid Zati, Tauhid Sifati, Tauhid Af’ali dan Tauhid   ibadi, ini semua dijelaskan dalam najhul balagah secara mendalam. Dan setiap orang yang membaca empat bagian ini akan mendapatkan pengetahuan tetang tauhid yang mendalam. Imam Ali menjelaskan bahwa Ketunggalan allah bukanlah dalam konteks bilangan yang memunculkan kemungkinan munculnya bilangan lain.
Contohnya ketika kita melihat atau mendengar sesuatu yang indah, dalam pengetahuan kita maka akan memunculkan kemungkinan adanya sesuatu yang lebih indah dari itu. Dan  aspek ketunggal allah tidaklah seperti hal ini yang mengandung dualitas di dalamnya dan merupakan puncak dari segala sesuatu. Karena itulah dalam al quran dikatakan bahwa kufurlah bagi yang menanggap allah 3 dari yang ke 3 yang mengandung arti memasukannya pada sifat-sifat bilangan. allah tidak pula dapat terlibat dalam penyerupaan dengan makhluknya, bahwa ketika ia dikatakan tunggal, maka tidaklah ketunggalannya itu menyerupai ketunggalan pada makhluknya, karena ketunggalan pada makhluk adalah ketunggalan yang merupakan rangkapan-rangkapan. Ketunggalan yang bisa diterima secara rasional dalam diri allah adalah ketunggalan yang bersifat mutlak dan mandiri serta tidak terbagi secara material mapun secara konseptual secara genus dan spesies.

Ucapan-ucapan imam ali ini menjadi sumber utama yang menjadi tiang penyangga teori-teori filsafat dan irfan dimasa mendatang karena ketajaman logika dan ketajaman aspek spiritual dalam ucapan-ucapan fasih imam ali ini. Tentu saja ada banyak lagi hal-hal mendalam dalam Najhul Balaghah yang membuat para ulama menghabiskan waktunya untuk meneliti karya ini. Tidak jarang kadang ketika kita membaca secara tidak hati-hati maka kita akan gagal untuk menangkap makna dalam setiap tema yang dibahas dalam kitab ini, bukan karena najhul balagah adalah kitab yang sangat sulit di pahami melainkan karena daya tangkap akal kita yang belum mumpuni untuk mencerap ketinggian hikmah yang bersumber dari ucapan imam ali. Najhul Balaghah ini menjadi ibarat samudra yang luas dihadapan setetes air yang tidak memiliki arti. 

Thursday, January 9, 2014

UNDANGAN SEMINAR NASIONAL FILSAFAT ISLAM DAN TASAWUF DUNIA

by STFI Sadra  |  in Undangan at  12:22 AM
Salam hangat.. Kami kembali mengundang Saudara untuk menghadiri Seminar Nasional Filsafat Islam dan Tasawuf Dunia "Studi Kitab Nahjul Bhalaghah - Karya Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib" pada : Hari, Tanggal : Jum'at, 10 Januari 2014 Waktu : Pukul 14.00 - 16.00 WIB Tempat : Auditorium Al-Mustafa Kampus ICAS - STFI Sadra, Jakarta Jl. Pejaten Raya No. 19, Jakarta Selatan. Telp. 021-7806545 Acara seminar ini gratis dan terbuka untuk umum Fasilitas : Makalah, Buku*, dan Sertifikat*

Wednesday, January 8, 2014

INSAN AL KAMIL DALAM PERSEPEKTIF ABDULKARIM AL JILL

by STFI Sadra  |  in SEMINAR NASIONAL FILSAFAT ISLAM DAN TASAWUF at  7:27 AM
PMIAI-ICAS-UP & STFI SADRA JAKARTA, 03/1/2014 bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra Kembali mengadakan Seminar Nasional Filsafat Islam Dan Tasawuf yang kali ini  membahas  Teori Insan Kamil yang merupakan pembicaraan yang umum dalam karya  tokoh-tokoh  tasawuf dunia termasuk Syekh Abdulkarim Al Jilli. Hadir sebagai narasumber kali ini adalah  Peneliti dan praktisi Filsafat dan tasawuf yang tidak asing lagi di dunia akademis yakni Prof. Prof. Dr.Yunasril Ali. Bertindak sebagai moderator kali ini adalah Ketua STFI Sadra Dr. Kholid Al Walid.Prof. Dr.Yunasril Ali  menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan  berberapa pandangan al-Jili dalam merefleksikan hakikat dari insan kamil diantaranya adalah :
Nama lengkapnya ialah ’Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn ’Abd al-Karim ibn Khalifah ibn Ahmad ibn Mahmud al-Jili. Ia mendapatkan gelar kehormatan ”syaikh” yang biasa dipakai di awal namanya. Selain itu, ia juga mendapat gelar ”Quthb al-Din” (kutub/poros agama), suatu gelar tertinggi dalam hirarki sufi. Namanya dinisbatkan dengan Al-jili karena ia berasal dari Jilan. Akan tetapi, Goldziher mengatakan, penisbatan itu bukan pada Jilan, tetapi pada nama sebuah desa dalam distrik Bagdad ”jil’. Ia lahir pada awal Muharam (767 H/1365-6 M) di kota Bagdad, karya-karya menurut kami masih mendekati originalitasnya, diantara enam karya al-Jilli adalah:

1.      Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat-i al-Awakhir wa al-Awail, Buku ini adalah bukunya yang paling poluler. Karya ini tersebar di Dar al-Kutub al-Mishriyah, Kairo, beberapa kali diterbitkan maktabah shabihy dan mushthafa al-Babi al-Halabi di Kairo, dan Dar al-Fikr di Beirut.Buku ini mengupas dengan mendalam konsep insan kamil (manusia sempurna) secara sistematis.
2.      Al-Durrah al-‘Ayiniyah fi al-Syawahid al-Ghaybiyah, Buku ini merupakan antologi puisi yang mengandung 534 bait syair karya al-Jilli
3.      Al-Kahf wa al-Raqim fi Syarh bi Ism-i Allah al-Rahman al-Rahim, Buku ini merupakan kajian mendalam mengenai kalimat Basmalah secara panjang lebar menurut tafsir sufi. Berbeda dengan kitab-kitab tafsir di luar tafsir sufi—yang berupaya menjelaskan kata demi kata dan kalimat demi kalimat dari ayat-ayat al-Qur’an—al-Jilli, di dalam karya ini menjelaskan ayat pertama surat al-Fatihah, huruf demi huruf, yang menurutnya merupakan lambang-lambang/simbol-simbol yang mempunyai makna tersendiri.4. Lawami’ al-Barq
4.      Maratib al-Wujud, Buku ini menjelaskan tentang tingkatan wujud dan disebut juga dengan judul Kitab Arba’in Maratib.
5.      Al-Namus al-Aqdam, Buku ini terdiri dari 40 juz, masing-masing juz seakan-akan terlepas dari juz lainnya dan mempunyai judul tersendiri. Akan tetapi sangat disayangkan sebagian besar dari buku ini tidak ditemukan lagi.
Al-Jili merumuskan insan kamil ini dengan merujuk pada diri Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW asebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya/roh) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini.
Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad oleh kalangan sufi, disamping terdapat dalam diri Muhammad juga dipancarkan Allah SWT ke dalam diri Nabi Adam AS. Al-Jili dengan karya monumentalnya yang berjudul al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Konsep Pengetahuan tentang Misteri yang Pertama dan yang Terakhir) mengawali pembicaraannya dengan mengidentifikasikan insan kamil dengan dua pengertian.
Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya. Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.
Bagi al-Jili, manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan mendakian mistik, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat. Latihan rohani ini diawali dengan manusia bermeditasi tentang nama dan sifat-sifat Tuhan, dan mulai mengambil bagian dalam sifat-sifat Illahi serta mendapat kekuasaan yang luar biasa.
Pada tingkat ketiga, ia melintasi daerah nama serta sifat Tuhan, masuk ke dalam suasana hakikat mutlak, dan kemudian menjadi “manusia Tuhan” atau insan kamil. Matanya menjadi mata Tuhan, kata-katanya menjadi kata-kata Tuhan, dan hidupnya menjadi hidup Tuhan (nur Muhammad).
Al-jili seperti ibn ’Arabi, memandang insan kamil sebagai wadah tajalli Tuhan yang paripurna. Pandangan demikian didasarkan pada asumsi, bahwa segenap wujud hanya mempunyai satu realitas. Realitas tunggal itu adalah wujud mutlak, yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan, arah, dan waktu. Ia adalah esensi murni, tidak bernama, tidak bersifat, dan tidak mempunyai relasi dengan sesuatu. Di dalam kesendirian-Nya yang gaib itu esensi mutlak tidak dapat dipahami dan tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan-Nya, karena indera, pemikiran, akal, dan pengertian mempunyai kemampuan yang fana dan tidak pasti, hal yang tidak pasti akan menghasilkan ketidakpastian pula. Karena itu, tidak mungkin manusia yang serba terbatas akan dapat mengetahui zat mutlak itu secara pasti. Al-jili mengatakan,”Sesungguhnya saya telah memikirkan-Nya, namun bersama itu pula saya bertambah tidak tahu tentang Dia”. Ungkapan tersebut senada dengan ucapan ibn ’Arabi,”Tidak ada yang mengetahui Allah kecuali Allah sendiri.”
Kemudian, wujud mutlak itu ber-tajalli secara sempurna pada alamsemesta yang serba ganda ini. Tajalli tersebut terjadi bersamaan penciptaan alam yang dilakukan oleh tuhan dengan kodrat-Nya dari tidak ada menjadi ada. Menurut al-jili alam ini bukanlah dicptakan Tuhan dari bahan yang telah ada, tetapi diciptakan-Nya dari ketiadaan (creatio ex nihilo) di dalam ilmunya. Kemudian, wujud alam yang ada di dalam ilmu-Nya itu dimunculkan-Nya menjadi alam empiris.
Dengan terjadinya tajalli Tuhan pada alam semesta, tercerminlah kesempurnaan citra-Nya pada setiap bagian dari alam, namun zat-Nya tidaklah berbilang dengan berbilannya wadah tajalli tersebut, tetapi tetapi Esa dalam segenap wadah tajalli-Nya. Dengan demikian, setiap bagian dari alam ini mencerminkan citra ketuhanan, namun apa yang tampak dalam dunia nyata hanyalah bayangan dari esensi mutlak itu. Menurut pandangan al-jili dan juga ibn ’Arabi, Tuhan adalah transenden dan sekaligus imanen.


Tuesday, December 31, 2013

AL QURAN MENUNTASKAN PROBLEM KEMANUSIAAN

by STFI Sadra  |  in Sadra News at  2:14 AM
“Al Quran dan Problematika Manusia Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” merupakan tema berbobot untuk mengurai pandangan Qurani tentang bagaimana seharusnya hidup berbangsa dan bernegara. Kini umat Islam berada dalam era peradaban yang menantang untuk menampilkan Islam sebagai solusi disaat berbagai konsep idiologi dunia mengalami kegagalannya mulai dari komunisme, kapitalisme, demokrasi dan lain-lain, mampukah umat Islam menghadapi  tantangan ini?”, Ada tuntutan yang besar bagi umat Islam untuk bisa menjawab tantangn ini dan Ada tiga persoalan inti sebagai prinsip-prinsip yang fundamental; Pertama,  umat Islamharus kembali bangkit, kreatif dan berjihad untuk kembali merujuk kepada ajaran-ajaranmurni Al Quran; Kedua, tidak cukup bagi umat Islam mengandalkan tafsir-tafsir yangselama ini sudah ada karena tuntutan situasi kontemporer, dan yang ketiga adalah melakukan  pembaharuan  yang mendasar dari pengetahuan-pengetahuan yang tidak up to date untuk kembali merujuk kepada Al Quran secara komprehensif . Perkembangan yang terjadi saat ini baik pada ilmu pengetahuan dan kondisisosio-politik  otomatis menuntut secara fundamental adanya pembaharuan pandangan, kalau ada gerakan puritanisme atas nama agama yang tidak memegang tiga prinsip tersebut, maka sebenarnya gerakan ini adalah gerakan mundur dan Islam tidak akan menjadi solusi bagi tuntutan perubahan peradaban global. Al Quran harus diajak bicara dalam memecahkan semua problematika hidup khusunya dalam konteks berbangsa dan bernegara, ia harus menjadi tolok ukur kebenaran, naif  kalau madzhabnya yang malah menjadi ukuran kebenaran Al Quran. Setiap muslim harus menjunjung tinggi hak-haknya, hak untuk hidup, hak bermartabat, hak bebas dan merdeka. Sebagai bangsa yang berada dalam teritorial tertentu seperti Indonesia dengan komunitas penduduk yang heterogen  yang saling terhubung dan terikat oleh nilai-nilai, maka sangat tidak qurani dan menyimpang bila ternyata terjadi tragedy ada yang melakukan pembenaran terhadap tindakan pengusiran, penjarahan, pembakaran bahkan sampai pembunuhan  oleh sekelompok dari bangsa ini terhadap sekelompok yang selainnya baik itu yang lain agama apalagi yang seagama.


KUNJUNGAN PROF.DR. KEIKOSAKURAI

by STFI Sadra  |  in Sadra News at  2:09 AM
Sadra News, Jakarta: STFI
Sadra memang layak diperhitungkan. Tanggal 5 September 2013 STFI Sadra dikunjungi salah satu pemikir dan peneliti Jepang, Prof. Keiko Sakurai. Kunjungan ini menarik karena ruang konsentrasi STFI Sadra sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memfokuskan diri pada kajian pemikiran Islam, khususnya pada dua bidang studi, yakni Filsafat Islam dan Tafsir Al Quran. Nilai penting inilah yang membuat Sakurai tertarik untuk mengunjungi STFI Sadra guna melakukan dialog dan wawancara. Ikut hadir dalam wawancara tersebut Ketua STFI Sadra dan beberapa dosen Filsafat Islam.

Proudly Powered by Blogger.